Ini Ceritaku, Apa Ceritamu?

Obat Generik Berlogo

Jumat, 31 Mei 2013
Oleh : Aan Yudianto

Yang perlu diperhatikan masyarakat adalah bertambahnya kepentingan dalam semua hal yang berkaitan dengan pemeliharaan dan pemulihan kesehatannya. Penderitaan yang berganda akan dirasakan seseorang saat penyakit mejangkit tubuh. Selain harus menderita sakit, masih harus menanggung biaya pengobatan dan membeli obat yang harganya sering kali tidak terjangkau. Bahkan, tidak jarang masyarakat yang tadinya mampu secara finansial jatuh miskin akibat sakit yang dideritanya membutuhkan obat yang biayanya tinggi. Tingginya biaya obat menjadi permasalahan di semua negara di dunia. Untuk itu, hampir semua negara memberlakukan kebijakan penggunaan obat generik untuk menekan biaya obat, termasuk di Indonesia.
Obat Generik Berlogo (OGB) diluncurkan pada tahun 1991 oleh pemerintah yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kelas menengah ke bawah akan obat. Jenis obat ini mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang merupakan obat esensial untuk penyakit tertentu (Kebijakan Obat Nasional, 2005).
Berdasarkan data nasional penggunaan obat generik di Indonesia hingga kini masih tergolong rendah, padahal meskipun harganya jauh lebih murah, kualitas dan khasiatnya sama seperti obat bernama dagang (bermerek). Menurut data Departemen Kesehatan RI (2010), peresepan obat generik oleh dokter di rumah sakit umum milik pemerintah saat ini baru 66 persen, sedangkan di rumah sakit swasta dan apotek hanya 49 persen. Ketersediaan obat esensial generik di sarana pelayanan kesehatan juga baru 69,7 persen dari target 95 persen, Dalam lima tahun terakhir 2005-2010, pasar obat generik turun dari Rp2.525 triliun atau 10 persen dari pasar nasional, menjadi Rp2.372 triliun atau 7.2 persen dari pasar nasional. Sementara, pasar obat nasional meningkat dari Rp 23,59 triliun pada 2005 menjadi Rp 32,93 triliun pada 2009. Hal itu antara lain dipengaruhi oleh tingkat penggunaan obat generik dalam pelayanan kesehatan.
Menurut Handayani (2007), persepsi masyarakat, permintaan dan kebutuhan masyarakat akan obat generik di rumah sakit bukan merupakan faktor rendahnya penggunaan obat generik, tetapi lebih disebabkan oleh rendahnya pengetahuan masyarakat tentang obat generik itu sendiri.
Hal inilah yang menyebabkan masyarakat cenderung mempercayakan pengobatan penyakitnya kepada dokter tanpa mempertanyakan jenis obat yang diberikan kepada mereka. Selain rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat akan obat generik, faktor lainnya yang menyebabkan rendahnya penggunaan obat generik berdasarkan Kebijakan Obat Nasional (2005), adalah akses obat kepada masyarakat, ketersediaan obat di berbagai daerah dan harga obat yang masih mahal.

Pengertian
Obat adalah bahan atau paduan bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, pemulihan, dan peningkatan kesehatan termasuk kontrasepsi dan sediaan biologis (Depkes RI, 2005).
Obat generik adalah obat dengan nama resmi yang telah ditetapkan dalam Farmakope Indonesia dan INN WHO (International Non-proprietary Names World of Health Organization) untuk zat berkhasiat yang dikandungnya di mana obat generik hanya menggunakan nama yang sesuai dengan zat berkhasiat yang dikandungnya walaupun diproduksi oleh pabrik yang berlainan (Depkes RI, 1989).
Obat generik berlogo yang lebih umum disebut obat generik saja adalah obat yang menggunakan nama zat berkhasiatnya dan mencantumkan logo perusahaan farmasi yang memproduksinya pada kemasan obat, sedangkan obat generik bermerk yang lebih umum disebut obat bermerk adalah obat yang diberi merk dagang oleh perusahaan farmasi yang memproduksinya.
Obat paten adalah obat baru yang ditemukan oleh peneliti yang mempunyai hak penuh/hak paten yang dikeluarkan WHO untuk obat yang dihasilkannya. Obat dengan nama dagang yaitu nama pemberian pabrik yang membuatnya di mana obat paten menggunakan nama dagang yang bermacam-macam, tergantung pabrik yang memproduksi walaupun jenis obatnya sama. Kemasannya dibuat mewah untuk menarik pembeli dan tiap pabrik mempromosikannya dengan nama dagang masing-masing secara gencar melalui berbagai cara sehingga harganya lebih mahal dari pada obat generik karena perbedaan di promosi dan kemasannya (Depkes RI, 1989).

Kelebihan
Dinamakan OGB karena obat ini ditandai dengan logo lingkaran hijau bergaris putih dengan tulisan "generik" di bagian tengahnya. Dari sisi zat aktifnya atau komponen utama obat, antara obat generik (baik berlogo maupun bermerek dagang), persis sama dengan obat paten.

Gambar 1. Logo OGB

Yang juga perlu dipahami adalah OGB dan obat generik bermerek hanya berbeda dari segi kemasan dan harga. OGB cenderung murah karena tak memerlukan biaya promosi yang besar. OGB dibuat dengan standar yang sama dengan obat bermerek sejenis, sehingga memiliki komposisi, kualitas dan khasiat yang setara. Dengan standar mutu yang ketat, maka OGB memiliki mutu dan khasiat yang sama baiknya dengan obat bermerek sejenis.

OGB lebih ekonomis
Harga OGB lebih murah karena :
      - Tidak perlu lagi menyediakan dana untuk biaya riset dan pengembangan seperti yang dilakukan perusahaan sebelumnya.
      - OGB diproduksi dalam jumlah besar sehingga biaya produksi lebih efisien.
      - Perusahaan-perusahaan yang memproduksi obat generik tak perlu mengeluarkan biaya promosi/pemasaran dan biaya kemasan generik biasanya dibuat lebih sederhana, tanpa mengurangi kegunaannya untuk melindungi khasiat dan keamanan obat .
      - OGB dikontrol oleh Pemerintah dan ditetapkan melalui SK Menkes dengan pertimbangan bahwa harga OGB harus terjangkau oleh masyarakat,
Sesuai UU Nomor 36 tahun 2009, penetapan harga obat generik dikendalikan oleh pemerintah dan oleh karena itu tiap tahun diterbitkan ketetapan / peraturan Menteri Kesehatan terkait harga obat generik. Terakhir dilakukan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 094/Menkes/SK/II/2012 tentang Harga Obat untuk Pengadaan Pemerintah Tahun 2012 dan Nomor 092/Menkes/SK/II/2012 tentang Harga Eceran Tertinggi Obat Generik.)

Produk OGB lengkap
      - OGB memiliki rangkaian produk yang sangat lengkap untuk berbagai penyakit, mulai dari obat anti nyeri dan inflamasi, antihipertensi, antibiotika, anti jamur, anti histamin, kortikosteroid, anti kolesterol dan lain-lain.

Cara memperoleh OGB
      - Kita dapat meminta kepada dokter anda untuk memberikan resep OGB sehingga biaya pengobatan dapat dihemat.
      - Kita dapat meminta kepada apotek untuk memberikan OGB guna menghemat biaya obat.

Edukasi dan Sosialisasi
Sosialisasi atau pemasyarakatan program adalah tahapan penting dalam program sosialisasi Obat Generik . Kegiatan sosialisasi tidak hanya menyampaikan informasi tentang OGB , tetapi juga mencari dukungan  dari berbagai kelompok masyarakat. Agar OGB sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dialog mengenai kebutuhan dan kepentingan masyarakat yang dapat dilayani oleh shareholder.
Untuk meningkatkan penggunaan obat generik di masyarakat, salah satu faktor yang sangat berperan adalah dokter. Diakui Sekjen Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Slamet Budiarto, dokter berpengaruh besar karena menuliskan resep obat. IDI, kata Slamet, selalu mengimbau kepada para anggotanya untuk meresepkan obat generik dan mengingatkan pada kode etik larangan menjalin kontrak dengan penyedia obat. Apabila terbukti ada anggotanya yang terlibat, maka akan diberikan sanksi berupa pembinaan.
Selain itu, peranan apoteker di instalasi farmasi juga sangat penting untuk bisa memberikan penerangan kepada masyarakat agar memilih obat generik serta berkonsultasi dengan dokter dan pasien untuk mengganti penggunaan obat paten dengan obat generik yang sepadan.
Tanpa ada peran dari dokter, apoteker, dan pelaksana kesehatan lainnya, sosialisasi obat generik belogo tidak akan tersampaikan dan merata ke seluruh lapisan masyarakat. Sosialisasi pada media massa oleh pemerintah akan sangat berpengaruh dan sosialisasi mengenai OGB akan tersampaikan kepada masyarakat.

Pembelajaran Positive
Meski harga sebagian obat generik mengalami sedikit kenaikan, namun masih jauh lebih rendah dibandingkan harga obat generik bermerk maupun paten dengan kandungan zat aktif yang sama. Sehingga obat generik merupakan pilihan terbaik untuk mendapatkan obat yang efektif dengan harga yang sesuai dan efisien. Namun masih banyak masyarakat yang menganggap obat generik sebagai obat kelas dua, dan cenderung meragukan kualitasnya. Masyarakat/pasien cenderung tidak bertanya mengenai obat yang diresepkan, disamping kurangnya informasi dari tenaga kesehatan baik dokter penulis resep maupun tenaga kefarmasian di apotek. Padahal, jika masyarakat mengenal dengan baik mengenai manfaat dan kelebihan obat generik, maka masyarakat sendiri yang diuntungkan, karena memperoleh obat bermutu dengan harga terjangkau.
Obat Generik berlogo merupakan salah satu upaya masyarakat untuk memberikan yang terbaik kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam kaitannya dengan kesehatan. Dengan adanya obat generik berlogo, seluruh lapisan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan akan obat-obatan dengan harga terjangkau dengan kualitas yang sama dengan obat paten. Perbedaan hanya sebatas pada namanya. Mengenai kualitas dan khasiat yang dihasilkan akan sama dengan obat paten.


Pustaka
Sutedjo, AY. 2008. Mengenal Obat-obatan Secara Mudah dan Aplikasinya dalam Perawatan.. Yogyakarta : Amara Books.
Anief, Moh. 1997. Apa yang Perlu Diketahui Tentang Obat. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Dr.Andini. 2011. Inilah Kelebihan Obat Generik. Diakses di http://drandini.wordpress.com/ 2011/09/02/inilah-kelebihan-obat-generik/ pada tanggal 30 Mei 2013
_______.2013. Obat Generik Berlogo Bukan Obat Orang Miskin. Diakses di http://kebijakan kesehatanindonesia.net/component/content/article/73-berita/1018-obat-generik-berlogo-bukan-obat-orang-miskin.html pada tanggal 30 Mei 2013.
Dr. Lusia. 2013. OGB (Obat Generik Berlogo). Diakses di http://drlusia.blogspot.com /2013/04/sosialisasi-obat-generik-berlogo-obg-di.html pada tanggal 31 Mei 2013.
Kabar Sehat edisi 011. April - Juni 2011.

0 komentar:

Poskan Komentar